Inilah Bedanya Megathrust dan Intraslab: Gempa Banten 2019

Diposting pada


Setelah gempa mengguncang Maluku dan Halmahera pertengahan Juli lalu, Jumat petang (2/8) warga Banten, Jakarta dan sekitarnya digoyang gempa dengan kekuatan yang hampir sama. Getaran gempa dirasakan di kawasan bagian selatan Pulau Sumatra hingga ujung timur Pulau Jawa, bahkan Bali dan Mataram.

Magnitudo 7,4 atau 6,9 ?

5 menit setelah gucangan terdeteksi, BMKG merilis bahwa gempa bermagnitudo 7,4 berasal dari kedalaman 10 km. Artinya, jika gempa dengan kekuatan besar berada di lokasi dangkal, maka, asumsi pertama yang muncul adalah mekanisme gempa megathrust yang berpotensi menimbulkan tsunami. Terlebih lagi, ancaman megathrust sunda bukan pemberitaan abal โ€“ abal. Nanti kita bahas lebih lanjut ya. Namun, selang tak berapa lama, BMKG melakukan perhitungan secara lebih komprehensif. Gempa yang semulanya bermagnitudo 7,4 direvisi menjadi 6,9 dan berasal dari sumber yang cukup dalam, berkisar 48 km.

๐Ÿ™ Kok bisa berubah ubah tho bulek ?

๐Ÿ™‚ Pemberitahuan pertama itu perkiraan, untuk tujuan mitigasi… kalau mau yang akurat, pakde bude BMKG butuh pengumpulan dan pemrosesan data yang ndak sebentar.. lhaiya kalau beneran terjadi tsunami apa ya mau nunggu sampai data akurat dulu.. kan bahayaa..

Dalam kasus ini, sinyal yang diterima baru stabil setelah 10 menit pascagempa. Namun pemodelan tsunami menunjukkan andaikata tsunami benar-benar terjadi, hanya setengah jam kemudian pesisir Lebak hingga Pelabuhan Ratu sudah terlanda tsunami. Sehingga waktunya cukup sempit.

Sistem Pembaruan Data Gempa BMKG

Secara detil, Paklek Gian Ginanjar, simulator tsunami InaTEWS memaparkan kalau semakin besar gempa, semakin lama durasi dia untuk mengeluarkan semua energinya. Sementara BMKG diharuskan mengirim info gempa maupun Peringatan Dini Tsunami (PDT) dalam 5 menit. Maka hasil apapun yang didapat dalam waktu kurang dari 5 menit, itulah yg di-publish.

๐Ÿ™ Lha kalau gempanya ternyata belum semua terlepas energinya? Bisa jadi lebih besar aslinya dong Paklek?

๐Ÿ˜€ Iya, bahkan misalkan gempanya sangat besar. BMKG harus kirim hasil sebelum gempanya selesai melepas semua energinya. Kasarnya dalam menit ke3 sudah harus selesai analisa untuk lanjut ke pemodelan, lanjut ke sistem pengiriman, yang bahkan data data masih terus masuk saat itu.

Maka dari itu, ada update atau revisi parameter gempanya. Jadi, info gempa 5 menit itu info awal, akan selalu ada updatenya terutama untuk gempa gempa signifikan. Berbeda dengan USGS maupun Geofon. Keduanya tidak berkewajiban untuk mempublish gempa dalam 5 menit, karena mereka memiliki lembaga peringatan tsunami tersendiri. 5 menit pertama malah mereka belum ada infonya. Mereka bisa analisa sesudah gempanya selesai, atau sesudah semua data terkumpul, dan akan update juga apabila ada tambahan data-data baru.

๐Ÿ™ Berarti kerjaan pakde bude BMKG dobel dobel yaa Paklek.. wahโ€ฆ kita harus berterimakasih yaa,, pakde bude di BMKG sudah bekerja keras agar kita selamat.. terus terus gimana selanjutnya, paklek?

BMKG akan meng-update parameter gempanya, setelah semua data data masuk, maka hasilnya tidak akan jauh dari hasil USGS atau Geofon, karena memang menganalisa gempa yang sama. Hanya beda frame waktunya saja. Untuk kasus gempa dan PDT banten tadi, di menit ke-10 bmkg sudah mendapatkan Magnitude 6.9. Tapi tidak langsung mengakhiri PDTnya, karena sesuai SOP menunggu hasil observasi muka air laut. Dan belajar dari kasus- kasus sebelumnya, dikhawatirkan ada efek-efek “ikutan” dari gempanya, maka ditunggu sampai benar-benar aman, yaitu 2 jam dari estimasi (hasil pemodelan awal) waktu tiba tsunami di daerah terdampak terjauh, ini mengambil skenario terburuk (worst case). Setelah pengakhiran PDT, maka parameter yang dipakaipun menggunakan data yg terupdate tadi, yaitu dengan Mag 6.9.

๐Ÿ™ hasil update ini apa juga berpengaruh terhadap pemahaman kita terhadap mekanisme gempa bumi ini ya bulek?

Megathrust atau Intraslab?

Dalam perspektif Paklek Maโ€™rufin, menilik kedalaman sumber gempa dan arah jurus sesar, jenis gempa yang terjadi Jumat lalu bukan gempa megathrust. Pertama, ketebalan kerak benua di Selat Sunda relatif tipis berkisar 20 โ€“ 22 km.ย  Sedangkan gempa yang terjadi lebih dalam dari batas maksimum terjadinya mekanisme megathrust. Lha ini sampai mendekati 50 km. ย Kemudian, arah jurus patahan yang berarah timur laut, tidak sesuai dengan pada umumnya gempa Megathrust di selatan Jawa yang cenderung sejajar dengan arah tunjaman yaitu berarah barat laut. Maka, disimpulkan bahwa gempa tidak cocok dengan karakteristik gempa Megathrust, namun lebih menunjukkan karakter gempa intra-slab.

โ˜น Waduh, apa lagi itu bulek?ย  bedanya apa sama gempa megathrust.. kan sama sama kuenceeng goyangannya..

Gempa intraslab ini pernah beberapa kali terjadi di sepanjang zona tunjaman selatan Indonesia. Diantaranya, gempa padang tahun 2009 yang menelan lebih dari 1000 korban jiwa, kemudian ditahun yang sama, terjadi gempa Jawa Barat yang menewaskan puluhan orang. Jauh sebelumnya, tahun 1699 Jakarta juga pernah mengalami gempa intra-slab dengan kekuatan magnitudo 7,4.

Apa itu Intraslab?

Yuk mari kita simak penjelasan dari bulek Gayatri, dosen UGM yang merupakan pakar Tektonik Indonesia. Pertama, gempa yang dirasakan secara merata biasanya berupa gempa intraslab, artinya sumber gempa berada di bagian dalam dari zona subduksi. Gempa intra-slab biasanya disebabkan karena lempeng samudra yang menunjam mengalami pecah, retak atau patah. Salah satunya, disebabkan karena proses dehidrasi batuan di dalam bumi.

๐Ÿ™ Kerak bisa dehidrasi, apa kecapean nyungslep yaa..

๐Ÿ™‚ Lha dibawah bumi itu kan puanaaas, sampai batu aja meleleh jadi magma apalagi kok cuma air.. ya pada nguap..

Kemudian, berbeda dengan megathrust, gempa intraslab dengan karakteristik getaran yang merata dan lokasi sumber yang relatif dalam tidak berpotensi menyebabkan tsunami. Selain itu, gempa intra-slab cenderung tidak diikuti dengan gempa susulan. Ini disebabkan karena lempeng samudra bersifat lebih liat sehingga lebih mudah kembali pada posisi awal. Berbeda dengan megathrust yang melibatkan sesar โ€“ sesar kecil yang dangkal sehingga lebih sering diikuti gempa susulan yang kekuatannya lebih kecil.

๐Ÿ™ Ada bedanya nggak ya bulek dampak gempa intra-slab sama megathrust ini?

Intraslab Lebih Merusak

Meskipun tipe gempa megathrust cenderung memiliki magnitude yang lebih besar, namun gempa intraslab lebih berpotensi merusak karena lokasi episenternya lebih mendekati daratan dan pusat populasi. Hasil hitung โ€“ hitungan Paklek Marโ€™rufin, gempa Banten, jumat lalu, dengan magnitudo 6,9 gempa bumi ini melepaskan 337 kiloton TNT energi sebagai gelombang seismik, setara dengan 16,9 kali lipat bom nuklir Nagasaki. Gempa tersebut disebabkan oleh patahnya bagian kerakbumi seluas 40 x 17,5 kilometer persegi. Pada area seluas itu terjadi pergeseran mendatar sebesar rata-rata 130 cm dengan pergeseran maksimum 170 cm. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pak Preston di Washington, pada tahun 2016, mekanisme gempa intraslab memiliki periode kejadian yang lebih singkat, artinya lebih sering terjadi dibandingkan dengan megathrust dan memiliki energi seismik yang lebih besar.

๐Ÿ™ Berarti meski tak berpotensi tsunami kita harus tetap waspada sama gempa intraslab ini ya bulek.. yaa sebenernya nggak maksud untuk nakut โ€“ nakuti lhoo.. karena kan potensinya memang beneran adaโ€ฆ

๐Ÿ™‚ Yuk kita bersamai bmkg untuk terus mengedukasi masyarakat. Bukan untuk memicu kepanikan , tetapi untuk meningkatkan kepahaman dan kesiapsiagaan.

The post Inilah Bedanya Megathrust dan Intraslab: Gempa Banten 2019 appeared first on Dongeng Geologi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.